'ENTER TEXT HERE'
WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Sulawesi Selatan

JudulPeralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Sulawesi Selatan
PengarangDarwas Rasyid, Arief Alimuddin, Agussalim Munadah, Ali Suemarto, dan Zakaria
PenerbitProyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1991
Tebalxii + 213 halaman
Desain SampulLestari
Continue reading >>

Konten Pengelolaan Website Kebudayaan

oleh: Yunus Satrio

(Makalah disampaikan dalam workshop pengelolaan website kebudayaan 3 -5 Juni 2014)

Sebuah website kebudayaan merupakan satu dari sekian banyak website yang secara spesifik berisi satu item yang ditinjau dari berbagai segi. Dengan demikian, akan sangat sulit bagi para admin yang tidak mengetahui seluk beluk tentang masalah, klasifikasi, dan arah dari sebuah kebudayaan. Selain itu, isi dari sebuah website kebudayaan juga harus diupayakan menarik dan terstruktur serta mengerti apa yang menjadi masalah-masalah tentang kebudayaan.

Dalam Workshop Pengelolaan Website Kebudayaan yang diselenggarakan pada tanggal 3 – 5 Juni 2014, salah satu pemapar, Yunus Satrio melalui makalah berjudul “Konten Pengelolaan Website Kebudayaan” mencoba untuk mengkaji masalah-masalah yang dihadapi peserta workshop perihal kesukaran mereka untuk mengisi konten website kebudayaan. Satrio melihat bahwa kesukaran yang dihadapi para pengelola website kebudayaan yaitu:

sukar mencari dan berbagi informasi
Sukar menentukan informasi apa yang menarik
Sukar menemukan isu
Sukar memperoleh arahan dari pimpinan
Tidak punya ide dan semangat
Apabila telah menemukan solusi dan menemukan masalah yang hendak diungkap. Bagaimana cara pengungkapannya. Apakah dalam bentuk deskripsi singkat, mendetail, ataukah disertai dengan analisa? Menurut Satrio, tulisan tentang budaya dapat disampaikan melalui berbagai bentuk, diantaranya:

Cerita : dongeng, mitos, folklor, dan sebagainya.

Pemikiran : Konsepsi tentang keheroikan, ketulusan, strategi, dan sebagainya.

Ulasan : deskripsi mengenai sebuah nilai dan karya budaya.

Kesan : penilaian sebuah peristiwa sejarah dan budaya

Opini : Pendidikan untuk semua orang

Ajakan : budaya santun, stop black campaign, dan sebagainya.

Pendidikan : Unsur-unsur candi

Penyampaian sebuah isi konten kebudayaan juga harus diupayakan jelas ditujukan pada kelompok tertentu. Pengkaburan ajakan atau penyampaian dari sebuah tulisan dapat membuat pembaca bingung kemana arah ajakan atau isi tulisan tersebut. Berdasarkan hal tersebut, Satrio membagi arah tulisan untuk dikomunikasikan kepada 5 kelompok, yaitu:

Kelompok Usia
Kelompok Sosial
Kelompok Intelek
Kelompok Khusus
Masyarakat umum
Patut dicatat bahwa arah penyampaian tulisan juga harus harus disesuaikan dengan bahasa dan cara berkomunikasi dari kelompok tersebut. Penyampaian dengan bahasa yang sesuai akan sangat besar pengaruhnya terhadap minat kelompok untuk tertarik dan memahami isi tulisan.

Berikut di bawah ini adalah contoh konten dari dua website kebudayaan kemdikbud, yaitu:

www.kebudayaan.Kemdikbud.go.id

menyampaikan informasi tentang kegiatan kedinasan dan manfaatnya bagi masy
membangun kepercayaan masyarakat
Menjadi media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat terkait dengan kegiatan-kegiatan pembangunan. Pilih berita yang bisa menjelaskan kinerja unit-unit kerja bidang kebudayaan dan pencapaian hasil yang bisa dinikmati oleh masyarakat.
www.kebudayaanindonesia.net

Memberi perhatian kepada persoalan jender, anakanak, dan orangtua
Memperoleh hubungan antar keyakinan, kelompok etnik, dan kelompok sosial
Website ini perlu dirancang menjadi cultural information center yang menyampaikan khasanah dan keberagaman budaya indonesia dan sebagai cultural hub.
Agar tampilan lebih menarik dan dipahami oleh pembaca, sebaiknya konten yang diupload tidak hanya diisi dengan tulisan semata. Satrio menyarankan untuk menambahkan beberapa bentuk grafis seperti gambar, dan video.

Menjelang akhir pemaparan, peserta diingatkan oleh Satrio bahwa setelah proses upload konten selesai maka akan timbul pertanyaan, maukah orang berkunjung lagi ke website kita? Isi konten yang bersifat alakadar biasanya akan ditinggalkan oleh pembaca dan mereka dipastikan tidak akan mengunjungi website kita lagi. Harus ada nilai informasi, pengetahuan umum, humanisme, dan konsistensi tulisan dalam konten kita sehingga pembaca diharapkan akan tertarik dan secara otomatis akan mengunjungi website kita lagi untuk melihat konten-konten lainnya yang ada dalam website.

Continue reading >>

Peran budayawan menjelang Pemilihan Presiden 2014

Gonjang ganjing dukungan dari berbagai pihak kepada salah satu capres cawapres menjelang pemilihan presiden 2014 saat ini santer dilakukan berbagai pihak. Tokoh yang dianggap berpotensi memiliki massa atau pengikut kerap didatangi oleh para tokoh dari masing-masing pendukung agar tertarik dan mengajak tokoh tersebut untuk mendukungnya.

Menjelang pilpres 2014, terlihat bahwa sebagian besar dari para tokoh yang didatangi oleh salah satu tim sukses tersebut berasal dari tokoh agama, organisasi masyarakat, purnawirawan, dan beberapa tokoh lainnya. Menarik untuk disimak bahwa sangat sedikit dari para tim sukses tersebut yang tertarik untuk meminta dukungan dari tokoh budaya atau budayawan agar tertarik dan mendukung kepada salah satu dari capres cawapres. Apakah kharisma dan massa pengikut dari tokoh budayawan tersebut sudah benar-benar memudar saat ini?

Terlepas dari sisi negatif atau positif dampak dari dukung mendukung salah satu capres cawapres menjelang pemilu presiden 2014, nampaknya kekuatan massa pendukung tokoh budaya atau budayawan sudah kurang dilirik lagi karena berbagai hal. Salah satunya mungkin disebabkan jumlah massa pendukung yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan massa dari tokoh agama ataupun tokoh organisasi masyarakat. Atau, tokoh budaya atau budayawan memang sudah tidak ada lagi yang bersuara atau memiliki kharisma. Mereka hanya berkutat dengan masalah budaya mereka sendiri dan tidak memikirkan atau berbicara perihal aspirasi tentang nilai-nilai luhur budaya mereka kepada salah satu capres cawapres. Perhatian terhadap kebudayaan dari para budayawan juga saat ini juga hanya terbatas dalam acara-acara resmi seperti seminar, lokakarya ataupun sarasehan namun tidak ada tindak lanjut untuk membentuk sebuah kekuatan yang menghidupkan kembali kearifan lokal dan nilai-nilai luhur dari kebudayaan yang dianutnya. Alhasil, saat ini individu yang terlahir sebagai orang sunda, jawa, makassar, aceh, papua, dan lain-lain tidak memiliki pedoman atau tokoh yang dipedomaninya untuk menjadi orang sunda yang baik, orang jawa yang baik, dan lain-lain. Masyarakat saat ini hanya menyandang gelar terlahir sebagai orang sunda, jawa, dan lain-lain, tetapi tidak mengetahui bahasa, kesenian, kuliner, kearifan lokal, nilai budi pekerti luhur dan lain-lain yang khas dari budayanya.

Pilpres 2014 saat ini dapat dikatakan menjadi salah satu bukti bahwa sisi budaya memang nyaris dikesampingkan karena sudah hampir tidak memiliki kekuatan lagi baik dari segi massa, tokoh budayanya, apalagi nilai dan karya budayanya. (admin kebudayaan BPNB Bandung)

Continue reading >>

BPNB Masih Miskin Struktur

Direktorat Jenderal Kebudayaan (sesditjenbud) Kemdikbud berupaya meningkatkan kinerja dan pembaharuan dalam organisasi. Utamanya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) yang dapat dikatakannya masih miskin struktur. Oleh karena itu, perlu diadakan reorganisasi agar pembangunan dalam bidang pelestarian kebudayaan dapat lebih mengena.

Demikian dikatakan Nono Adya Supriyatno Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan (sesditjenbud) Kemdikbud, pada acara serah terima jabatan antara kepala BPNB Jabar dari pejabat lama Drs Toto Sucipto kepada pejabat baru Jumhari SS. Jumhari sebelumnya adalah kepala BPNB Sumatera Barat, sedangkan Drs. Toto Sucipto adalah Kepala BPNB Jawa Barat yang akan dipindahtugaskan menjadi Kepala BPNB Kepulauan Riau.

Dikatakan Adya, ada dua hal dalam pembangunan budaya, yaitu budaya tangible (terlihat) dan intangible (tidak terlihat). Dua pembangunan budaya itu harus diperkuat dengan undang-undang. BPNB dalam, kata dia, hal ini adalah lembaga di bawah Kemdikbud yang masuk dalam kategori upaya pelestarian budaya dari sisi intangible.

Menurut beliau, saat ini undang-undang bidang pelestarian budaya bidang intangible yang sudah dibuat masih bersifat parsial, yaitu bidang perfilman dan bahasa. Sementara undang-undang bidang kebudayaan secara keseluruhan masih dalam pengerjaan. "Apabila dapat terwujud maka status Direktorat Jenderal Kebudayaan dapat jauh lebih mapan,"katanya.

Saat pergantian pemerintahan, kata dia, Direktorat Jenderal Kebudayaan memang sudah beberapa kali pindah kementerian. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan baik dari segi kinerja maupun urusan administrasi. Sesditjen berharap bahwa pengerjaan UU kebudayaan dapat selesai dan terwujud pada seputaran April - Mei 2017.

Toto Sucipto mengatakan, bahwa pola kerja Kepala BPNB berbeda dengan lembaga lainnya. Dia mencontohkan, menjalin relasi dengan para budayawan, seniman, media massa, dinas terkait, LSM, dan akademisi yang secara keseluruhan bergerak dalam bidang pelestarian budaya sangat dibutuhkan oleh seorang kepala BPNB. Karena itu, kepala BPNB Jawa Barat yang baru agar mengawal karya budaya pencak silat yang akan diusulkan ke UNESCO menjadi salah satu warisan budaya dunia.

Continue reading >>

Label

1990 (11) 1991 (3) 1992 (19) 1993 (35) 1994 (1) 1995 (27) 1996 (11) 1997 (35) 1998 (25) 1999 (28) 2000 (20) 2001 (20) 2002 (12) 2003 (12) 2004 (7) 2005 (20) 2006 (1) 2007 (36) 2008 (17) 2009 (33) 2010 (37) 2011 (46) 2012 (37) 2013 (9) 2014 (21) 2015 (10) 2016 (14) aam masduki (12) ade MK (2) adeng (12) Agenda (24) agus heryana (13) Ani Rostiati (8) arsitektur tradisional (2) Artikel (80) bahasa (6) banceuy (1) bandar lampung (3) Banten (13) Bartoven Vivit Nurdin (1) Berita (138) Bimbingan (7) Bogor (1) budaya (194) Buddhiracana (15) Bunga Rampai (1) ciamis (6) Cianjur (3) cimahi (1) cirebon (11) dialog (9) Dialog Budaya (1) Dibyo Harsono (6) DKI Jakarta (4) download (3) ekonomi (11) Endang Nurhuda (4) endang supriatna (7) enden irma (10) euis thresnawaty (8) Festival Kesenian Tradisional (2) folklore (4) Galery (7) Garut (10) gembyung (1) geografi sejarah (9) gua sunyaragi (1) halwi dahlan (6) hermana (9) herry wiryono (12) heru erwantoro (12) iim imadudin (9) Indramayu (5) Info (9) irvan setiawan (5) iwan nurdaya (1) Iwan Roswandi (6) jawa barat (33) Jurnal Penelitian (186) Kabupaten Bandung (4) kampung (1) kampung kuta (1) kampung mahmud (2) kampung naga (1) Karawang (3) kekerabatan dan organisasi sosial (10) keraton kacerbonan (1) keraton kanoman (1) keraton kasepuhan (1) kesenian (18) komunitas adat (6) Kuningan (1) Lampung (6) Lampung Utara (1) lasmiyati (12) lawatan budaya (4) lawatan sejarah (3) lebak (7) lina herlinawati (11) lomba penulisan (1) Majalengka (5) mapag sri (1) mitos (1) moh ali fadhillah (1) mumuh (1) museum (1) nandang rusnandar (14) naskah kuno (6) nina merlina (7) pakaian (3) Patanjala (97) Pembekalan Teknis Penelitian (1) Pembekalan Teknis Perekaman (2) Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan (10) pengetahuan (4) pengobatan (4) pengrajin (3) perikanan (2) perilaku manusia (1) peristiwa sejarah (11) permainan (3) Perpustakaan (333) peta budaya jawa barat (1) Purwakarta (2) religi (11) Resensi Buku (1) ria andayani (13) ria intani (10) Risa Nopianti (1) rosyadi (9) sejarah (75) sektor informal (5) Seminar Hasil Penelitian (2) Seminar Sejarah (1) Seminat Hasil Penelitian (1) seni pertunjukan (5) Serang (2) subang (7) Sukabumi (5) sumedang (5) Suwardi Alamsyah P (14) Tangerang (1) Tasikmalaya (7) teknologi (4) Tinjauan Buku (2) Tjetjep Romana (8) tokoh sejarah (1) toto sucipto (12) tradisi lisan (6) upacara tradisional (8) Video (6) WBTB (1) Yanti Nisfiyanti (9) yudi putu satriadi (12) Yuzar Purnama (13)
 

BPNB Jawa Barat - Copyright  © 2012 All Rights Reserved | Design by OS Templates Converted and modified into Blogger Template by BTDesigner | Back to TOP